Segubal, Kuliner Khas Lampung dalam Kenangan

Share :

makanan-segubal-lampung
ragamlampung.com — Cara paling cepat mengenali budaya lokal suatu daerah adalah melalui makanannya. Segubal yang merupakan makanan khas Lampung, akan menjelaskan banyak tentang masyarakat dan adat istiadatnya.

Namun, makanan khas ini sudah mulai sulit ditemui di masyarakat Lampung. Karena proses pembuatannya rumit dan perlu ketelatenan, tidak banyak orang yang mau menekuninya apalagi menjadi santapan biasa. Sedikit demi sedikit seiring perkembangan zaman, segubal seperti kenangan.

Segubal merupakan hidangan penutup khas Lampung. Segubal lebih mudah ditemui saat perayaan hari besar, terutama Idul Fitri maupun acara khusus. Sekilas, makanan yang dibungkus daun pisang berbentuk bulat memanjang ini mirip dengan lontong. Jika lontong terbuat dari beras yang dibuat sebagai hidangan utama, maka segubal terbuat dari beras ketan dan lazim sebagai menu penutup.

Segubal terbuat dari beras ketan yang diaron bersama dengan santan, daun salam, dan garam. Perbanding beras ketan dan santan masing-masing 1 kg:1 liter. Selanjutnya, beras ketan setengah matang itu dibungkus daun pisang berbentuk bulat memanjang dan dikukus selama 6 jam – 8 jam menggunakan api kecil. Lamanya perebusan menghasilkan segubal yang lebih lembut dan awet.

Segubal dapat bertahan hingga satu minggu, jika disimpan di kulkas. Saat akan disantap, segubal terlebih dulu dikukus. Jika diletakkan pada suhu ruangan, maka segubal hanya bertahan tiga hari.

Proses saat mengaron juga menjadi kunci menghasilkan segubal yang lezat. Selain harus menggunakan apik kecil, cara mengaduk juga perlu hati-hati.

Pemilik Foodtruck Segubal, Uyung Syafril (39), belum dapat membuat segubal seorang diri. Selama ini, sang Ibu, Hamawi (76), yang rutin membuat segubal untuk pesanan Hari Raya, acara khusus, maupun pesanan pejabat.

Di luar rutinitas tahunan itu, Uyung membantu penjualan segubal di pameran-pameran. Uyung mengakui meski tak bisa membuat segubal, tetapi dia tahu persis tahapan pembuatannya.

Banyak pejabat dan masyarakat yang pesan untuk acara khusus. Sebab, tidak mudah menemukan segubal yang asli. Segubal Hamawi dapat dipotong meski menggunakan sendok plastik, karena tekstur yang lembut. Jika pun ada segubal di pasar, tetapi teksturnya lebih keras.

Segubal dapat disajikan bersama rendang, opor ayam, tape ketan hitam. Namun, Uyung menambahkan variasi segubal rasa coklat, susu, dan keju, agar disukai generasi muda. Di festival Jelajah Rasa, Uyung menjual satu porsi segubal seharga Rp10.000.

Meski sebagai hidangan penutup, segubal mengandung filosofi yang menggambarkan budaya lokal. Mekhanai 1 Provinsi Lampung 2016, Syarif Hidayat, menjelaskan sifat beras ketan yang lengket menggambarkan rasa kekeluargaan yang erat. Apalagi segubal biasa disantap bersama-sama saat Hari Raya.

“Dari makanan itu tercipta keluarga yang harmonis,” katanya. (ar)

Share :