Kerang Dara, Harapan Baru Nelayan Sungai Burung

Share :

budidaya-kerang-dara-tulangbawang
ragamlampung.com — Nelayan Pesisir Pantai Laut, Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente Teladas, Tulangbawang, mulai meninggalkan cara tangkap ikan yang dilarang pemerintah, dan menerapkan tangkap ikan yang berorientasi kelestarian lingkungan hidup.

Nelayan memang harus lebih ramah lingkungan, karena Menteri Kelautan dan Perikanan juga sudah mengeluarkan larangan pengunaan alat penangkapan ikan berupa pukat tarik, seine nets, pukat hela atau jaring troll dan sejenisnya. Demikian juga pengawasan Polisi Air dan Udara (Polairud) maupun Polisi Penyidik Dinas Kelautan dan Perikanan (PPNS DKP), yang makin ketat.

Nelayan di kampung itu kini beralih menekuni budidaya kerang dara, yang hasilnya ternyata lebih menguntungkan.

Kepala Kampung Sungai Burung, M Jamal, mengatakan, Rabu (12/10/2016), modal untuk budidaya kerang dara cukup waring dan bibit. Tapi, hasilnya sebanding dengan menangkap hasil laut menggunakan jaring troll.

“Kerang termasuk komoditas laut yang mudah dibudidayakan. Ada berbagai macam jenis kerang yang ada di perairan Indonesia. Tapi, kerang yang sering dibudidayakan adalah jenis kerang dara,” katanya.

Kegiatan budidaya yang baru ditekuni dua tahun terakhir itu, membuat nelayan setempat perlahan beralih profesi, sebab harga dan nilai jual kerang dara menjanjikan. Umur budidaya tidak terlalu lama, kisaran 3 sampai 4 bulan dari masa tebar, setelah itu dipanen.

Bibit kerang dara dipasok dari Palembang dan ada pula berasal dari daerah perbatasan Tulangbawang dan Mesuji di daerah Teluk Gedung. Harganya Rp2.500 sampai Rp3.000 per 1 kg. Sedangkan harga panen dijual Rp8.500 sampai Rp9.000 per kg.

Pemasarannya di kampung terdekat yakni Mahabang, Rawa Jitu, juga Palembang dan pulau Jawa seperti Jakarta. Bahkan, ada dari luar negeri, seperti Hongkong dan Taiwan.

Peminat kerang dara kian hari bertambah, namun untuk ekspor, nelayan setempat kesulitan mempertahankan kerang dara tetap hidup dalam waktu lama di perjalanan dan tiba di tempat tujuan.

“Beberapa waktu lalu ada orang dari Cina beli sekitar 5 kuintal. Namun sepertinya gagal karena sampai di Hongkong, semua kerang mati. Kami belum tahu cara membawa ke luar negeri dan supaya tetap segar. Saat ini nelayan hanya bisa memasarkan ke Palembang dan Jakarta yang dikirim menggunakan kapal,” tutur Jamal.

Budidaya kerang dara di Kampung Sungai Burung, kata Jamal, memang cocok, karena daerah itu tidak terpengaruh dengan curah air hujan, sehingga tidak ada istilah air payau. Air di Kampung Sungai Burung sepanjang tahun selalu asin.

“Kerang dara tidak boleh air tawar, daerah lain seperti Kuala Mesuji dan Kuala Tuba, sering turun air tawar dari daratan, makanya airnya jadi payau,” katanya.

Saat ini lahan pembudidayaan mencapai ratusan hektar, dan saat panen raya menghasilkan paling sedikit 600 ton tiap tahunnya.

“Saya berharap pemerintah khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan membina masyarakat pembudidaya kerang dara ini. Karena potensinya sangat besar,” kata dia. (ar)

Share :