Festival Seks dan Obat Terlarang di Pulau Misterius Kolombia

0
8
ilustrasi

ragamlampung.com — Meski mendapat ancaman keras dari pemerintah, panitia penyelenggara sepertinya bersikeras meneruskan niatnya mengadakan festival seks dan pesta obat terlarang di sebuah pulau eksklusif di Cartagena, Kolombia.

Pihak berwenang Kolombia mengancam akan mendeportasi siapapun yang tiba di pulau itu untuk menghadiri dan ikut acara. Sementara, pihak penyelenggara menyatakan acara selama empat hari itu terus berjalan.

Acara dinamakan “Pesta Sex Island” diselenggarakan Good Girls Company, direncanakan berlangsung antara 24-27 November di sebuah pulau misterius di lepas pantai Cartagena.

Dinukil dari Metro, Jumat (10/11/2017), perusahaan itu menawarkan kepada 30 orang untuk memesan perjalanan dengan 60 pekerja seks komersial yang tersedia 24 jam sehari untuk seks tak terbatas.

Seperti ditulis di situs resmi perusahaan disebutkan semua harga dari tiket pesawat dan kapal pesiar ke pulau hingga acaranya sekitar Rp50 juta sampai Rp70 juta. Mereka mengklaim sudah ada pemesan dari kalangan bintang pop Inggris dan penyanyi dari Amerika Serikat.

Pihak berwenang Kolombia mengatakan bahwa mereka akan mendeportasi siapapun yang mendarat di negara tersebut dengan tujuan liburan ke pulau seks.

Pelacuran di Kolombia dianggap legal, tapi mucikarinya sebuah kejahatan. Wali kota di wilayah pulau itu, Sergio Londono, berjanji tidak akan membiarkan acara berlanjut.

“Kita tidak akan terima. Mereka ingin menjual kita sebagai tujuan seksual. Itu bukan pariwisata yang kami inginkan,” katanya, melalui akun Twitter.

Menteri Dalam Negeri Kolombia, Fernando NiƱo juga mengatakan bahwa liburan pariwisata seks memerlukan izin resmi, dan acara itu dipastikan tak akan diberi izin. “Ini pelanggaran seksual, pelecehan seksual, pornografi. Kami tak akan memberikan otorisasi,” katanya.

Pemerintah lokal di Cartenega juga mengeluhkan pesta pora seks tersebut. Tapi, pihak panitia bersikeras acara berjalan sesuai rencana. (ar)

LEAVE A REPLY

Silahkan Isi Jawaban Yang Benar * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.