Pria ‘Berkualitas’ Sedikit, Wanita Iran Pilih Melajang

ilustrasi
Share :
ilustrasi
ilustrasi

ragamlampung.com — Iran, suatu negara yang menganut teokrasi yang menjadikan prinsip-prinsip Islam sebagai petunjuk. Dalam tatanan seperti itu, posisi wanita tak sama dengan pria dan pernikahan adalah hal yang mutlak. Namun, saat ini semakin banyak wanita-wanita Iran yang tidak lagi mau hidup dalam aturan seperti itu.

LA Times bertemu sejumlah wanita Iran yang memutuskan untuk melawan ekspektasi orangtua dan negara agar mereka menikah dan memiliki keturunan. Mereka adalah bagian dari lebih dari 30 juta wanita Iran yang berusia di atas 30 tahun yang tidak menikah. Hal tersebut menunjukkan pola pikir mereka mulai bergeser meski para ulama setempat sangat gencar memberi ceramah tentang pernikahan.

Jumlah wanita di Iran yang memilih hidup sendiri semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah perceraian dan lebih banyak wanita Iran yang menuntut ilmu hingga ke tingkat universitas lalu mengejar karir. Di tahun 2015, jumlah pernikahan yang terdaftar menurun sebanyak 3,4 persen, sedangkan perceraian (untuk ukuran negara teokrasi) meroket hingga 4,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebanyak 60 persen mahasiswa di Iran adalah wanita. Ini membuktikan wanita-wanita Iran menyadari pentingnya pendidikan untuk kehidupan mereka. Konsekuensinya, para wanita ini kian memahami arti kebebasan dan kemudian bertambah selektif dalam memilih laki-laki. Dalam benak mereka, pria ‘berkualitas’ adalah pria yang memiliki pikiran terbuka serta bisa hidup dengan wanita bebas yang mandiri.

Pengakuan wanita-wanita Iran kepada LA Times cukup mengejutkan jika dilihat dari norma serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat Iran. Beberapa menyebut bahwa laki-laki Iran yang mereka temui sehari-hari masih mempercayai bahwa, misalnya, wanita harus memperoleh izin pria untuk melakukan aktivitas apapun.

Beberapa bahkan menyebut pernah mengencani pria yang tidak suka dengan fakta bahwa wanita bisa memperoleh penghasilan lebih besar dari lawan jenis dan menuduh mereka berhasil dalam dunia karir karena koneksi keluarga. Mereka pun tak segan untuk memutuskan hubungan dengan pria-pria seperti itu.

Salah satu wanita yang ditemui LA Times bahkan memberi pernyataan yang seharusnya cukup menohok para pria. Menurutnya “Para pria itu berpakaian layaknya orang-orang modern di Eropa, tapi secara mental mereka masih sangat kuno”.

Beberapa masih berharap bahwa dengan meningkatnya kualitas para wanita, maka pria-pria akan memaksa diri untuk mengimbangi mereka. Namun, sampai waktu itu tiba, wanita-wanita mandiri ini berkomitmen untuk terus melawan tradisi. (ar)

Share :