Pelajaran Berharga dari Gempa Aceh

Share :

ragamlampung.com — Gempa di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12/2016), menewaskan seratusan warga setempat, menghancurkan ribuan bangunan, dan sarana infrastruktur lainnya.

Gempa itu dinilai mirip gempa Yogyakarta tahun 2006, karena kedua pusat gempa berada di lempeng berkedalaman di bawah 60 kilometer, dan digolongkan jenis gempa dangkal.

Namun, dampak kerusakannya tergolong besar. Goncangannya juga lebih kuat ketimbang gempa dengan titik pusat lebih dalam.

Gayatri Indah Mariyani, pakar gempa dari Universitas Gadjah Mada, dilansir Jumat (9/12/2016), menjelaskan, goncangan itu begitu merusak karena wilayah pusat gempa disusun batuan yang tidak kompak. Sementara gelombang gempa bersifat melambat ketika melewati batuan yang lepas-lepas, sehingga getaran akan terasa lebih kuat. Pusat gempa yang dekat permukaan bumi juga menjadi salah satu faktor pemicu kerusakan parah.

Ia menambahkan bahwa sesar atau patahan bumi yang aktif di Pidie Jaya berasal dari sesar Sumatra bagian utara, dan sesar ini masih belum terpetakan.

Ia mendesak upaya mitigasi bencana gempa. Salah satu langkahnya memetakan jalur sesar atau patahan aktif di seluruh kawasan Indonesia, terutama di kawasan padat penduduk atau perkotaan.

Indonesia tergolong negara rawan gempa dan tsunami. Wilayah kepulauan ini terletak di antara pertemuan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Sementara gempa adalah peristiwa alam yang memang rutin terjadi tiap hari di belahan bumi manapun, tapi masih tak bisa diramalkan teknologi apa pun saat ini.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata, 157 juta jiwa penduduk Indonesia di 386 kabupaten dan kota bermukim di wilayah-wilayah yang rawan gempa dan bencana alam lain.

Wilayah Indonesia Timur malah lebih berisiko. Dari jumlah itu, 148,4 juta jiwa penduduk Indonesia terpapar langsung bahaya gempa dan 3,8 juta jiwa terpapar bencana tsunami.

Budi Brahmantyo, dosen Institut Teknologi Bandung, punya poin penting perlu upaya mitigasi yang harus dilakukan pemerintah Indonesia. Mitigasi atau upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak gempa adalah hal mutlak yang harus dirancang,

Ia mencontohkan Jepang, negara yang terkenal sering dilanda gempa, membagi mitigasi dalam dua jenis. Pertama, secara struktural berupa penataan ruang atau kode bangunan. Saran arsitek diperhatikan untuk menemukan bahan bangunan yang tepat: tiang kuat, struktur bangunan sederhana, bahan yang ringan, dan lokasi yang aman. Kedua, secara non-struktural berupa pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat bagaimana selamat dari gempa.

Di Indonesia, selama ini kita diajarkan untuk keluar dari rumah atau gedung saat gempa terjadi. Ini wajar, karena jarang bangunan di sini terutama rumah didesain tahan gempa. Termasuk seperti bangunan di Pidie Jaya, menurut BNPB. Berbeda dengan Jepang ketika warganya justru memilih tetap diam di rumah dan mencari perlindungan di bawah furnitur yang kuat. (ar)

Share :