Kebisuan Penderitaan Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Share :

ragamlampung.com — Mereka mengatakan mereka berlari dari pembunuhan dan penganiayaan. Dan semuanya itu berakhir di pondok lumpur di Teluk Benggala, Bangladesh. Musim hujan makin mendekat, bersama dengan ancaman siklon dan banjir, nasib puluhan ribu pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp penuh sesak di Bangladesh, terlihat seperti sangat megkhawatirkan dijjadikan tempat penampungan sementara mereka.

“Ini menjadi krisis diam yang tidak mendapat perhatian dunia internasional secara layak. Padahal, mereka menghadapi masalah krusial dan ketidakpastian masa depan,” kata Yehezkiel Simperingham, Koordinator Migrasi Regional Asia Pasifik untuk Federasi Palang Merah Internasional (IFRC), kepada CNN, Rabu (19/4/2017).

Tempat penampungan mereka saat ini tidak cukup kuat untuk menahan pola cuaca ekstrem.
PBB memperkirakan sebanyak 74.000 warga Rohingya menyeberangi perbatasan ke Bangladesh sejak Myanmar menerapkan tindakan militer yang keras di bagian Rakhine Utara, pada 9 Oktober tahun lalu.

Mereka melarikan diri karena ancaman pembunuhan dan pemerkosaan oleh pasukan keamanan Myanmar. Namun, Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar membantah pembersihan etnis dalam sebuah wawancara dengan BBC.

Bangladesh salah satu negara yang menawarkan perlindungan untuk Rohingya.

“Kami hampir tidak memiliki cukup makanan untuk bertahan hidup,” kata Mohsena, seorang ibu Rohingya (22) yang tinggal di tempat penampungan sementara di Bangladesh. “Jika kita punya makan sekali, kita tidak tahu lagi kapan dapat memiliki yang berikutnya. Anak-anak saya adalah perhatian utama saya,” katanya.

Diperkirakan satu juta Muslim Rohingya tinggal di utara negara bagian Rakhine, Myanmar. Mereka dianiaya karena etnis minoritas di negara mayoritas Buddha.

Share :